Skip to main content

Toleransi itu Baik






“Indonesia negri ku, orangnya lucu-lucu” 
Salah satu balasan komentar yang  ditulis oleh anak muda dalam postingan sebuah akun berita mengenai politik mantan Gubernur DKI Jakarta membuat ku tertawa lepas. Rupanya orang itu sedang membalas akun diatasnya yang berkomentar SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan).
Bukan, bukan menertawakan sang mantan Gubernur, tetapi melihat isi dalam kolom komentar dalam postingan tersebut sangat lucu. Kok bisa-bisanya manusia dalam negri sendiri saling mencela dan intoleran? Bukankah sedari SD kita sudah harus menghafal PANCASILA, dan dimasukan kedalam norma masyarakat. Mungkinkah masyarakat lupa?

Padahal, toleransi antar masyakarat sudah diterapkan sehari-hari yang sudah biasa dilakukan jika kita mengingat semboyan yang kita miliki. Toleransi sejatinya merupakan kebutuhan masyarakat agar dapat hidup rukun dengan adanya perbedaan yang terdapat antar masyarakat yang tidak mungkin dihindarkan. Menurunnya sikap saling bertoleransi di Indonesia saat ini juga mungkin diakibatkan belum mampunya negara untuk mengayomi serta menghadirkan keadilan dan kesejahteraan pada rakyatnya. Terlihat dari kesenjangan ekonomi yang ada.

Melihat keadaan saat ini sangat perlu adanya edukasi atau pembelajaran sejak dini bagi anak anak sekarang, mengenai tolerasi antar masyarakat agar dapat mengantisipasi peningkatakan sikap intoleran di Indonesia. ada beberapa faktor yang selama ini diketahui oleh masyarakat tentang penyebab seseorang bertindak radikal, tapi ternyata tidak ada kaitannya sama sekali, seperti berasal dari keluarga berada, berpendidikan tinggi, hingga wilayah tempat tinggal. Sebab, tindakan radikal yang sudah dicontohkan oleh beberapa tokoh yang telah ada, justru orang yang cenderung terkesan tidak akan melakukan tindakan radikal. That’s Right!

"Ternyata, pendidikan, pendapatan, dan wilayah tempat tinggal tidak ada hubungannya dengan tindakan radikal. Contohnya, yaitu Bahru Naim yang berasal dari keluarga cukup mampu, berpendidikan tinggi, tapi sekarang malah aktif merekrut anak-anak untuk ke Suriah," tambah Yeni Wahid, dalam pemaparannya dia cara Simposium Nasional Peran Ibu untuk Perdamaian, di Hotel Shangri La Jakarta dalam sebuah artikel. Disini peran ibu juga sangat penting, karena lingkungan pertama untuk mengajarkan banyak hal terhadap anak, adalah keluarga, salah satunya sikap toleransi. Tidak mencela suku, agama, ras, maupun golongan.

Jangan dibiarkan hal ini, bukan tidak mungkin bagi negri tercinta Indonesia akan mengalami kemunduran persatuan kesatuan. Mari bersama-sama lakukan sikap toleransi untuk Indonesia yang lebih baik, dan aman. Bukankah perbedaan itu indah.











Sumber : https://lifestyle.okezone.com/read/2017/12/04/196/1824881/pola-asuh-toleransi-yang-diajarkan-ibu-bisa-cegah-intoleransi

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Tinggal

Hubungan tanpa status sama gilanya dengan berjalan tanpa tujuan, sebab kita nggak akan tau kemana langkah kaki akan berpijak dan hati akan menetap. Banyak tempat yang kita singgahi, banyak waktu yang kita luangkan, dan banyak pengalaman yang membuat ku mengenal sedikit demi sedikit tentangmu. Tapi apakah semua itu jelas? Tentang kisah cinta atau pertemanan yang abu-abu. Aku sendiri sampai bingung menyebutmu apa. Terlalu nyaman dengan kondisi seperti itu. Aku tak menyesal, karena proses hidup memang seperti itu bukan? Menjalani berbagai hal lucu yang nantinya untuk diulas dimasa depan. Aku tak menyesal, kita pernah bersama. Hanya saja maafkan aku dulu selalu mempioritaskanmu. Aku yang selalu menebak-nebak dan terlalu takut bertanya, salahkah? Iya pasti salah Aku yang terlalu pasif tanpa tau bagaimana harimu berlalu, bagaimana menyapamu. Aku yang terlalu percaya diri, tanpa mengenalmu lebih jauh, tanpa mengetahui kisahmu. Bodohkan Mulai saat ini di antara kit...

Hai UN

Singkat kata singkat cerita, pertama - tama gw mau kenalin profile kilas gw Nama gw adalah Rida Anisa, seorang siswi SMK kelas XXI, ehh salah XII di Jakarta Timur yang besok akan menjalan kan UN.      Yup , National Exam. Beredar Hoax seru mengenai ujian mistis ini yang katanya banyak beredar Kunci Jawaban. Kalau dipikir - pikir sih sayang banget kalau kita pake KJ (Kunci Jawaban) karena selama 3 tahun kita belajar bersusah payah dari berakit - rakit dahulu, berbagai macam pengulangan dan pembahasan soal, masa nggak ada satupun yang masuk otak? kalau dilihat dari segi moral sih, ini udah merusak banget generasi muda Indonesia, selain menciptakan bibit korupsi, juga memperkenalkan cara cepat yang bisa dibilang nggak adil sama sekali bagi siswa/i yang udah belajar mati-matian. Mau jadi apa bangsa kita guy's ? karena di dunia kerja nanti orang ber otak dan mempunyai skill akan mengahlahkan orang yang nggak punya skill. Pekerjaannya juga akan bertahan lama ji...

Untuk kita yang pergi mengejar mimpi. Semoga bertemu lagi dalam kemapanan dan kesiapan untuk hidup bersama.

Pernah dengar istilah “Menunggu lebih baik daripada harus menghabiskan waktu dengan orang yang salah” ? atau “Daripada menunggu, lebih baik memulai”   Diusia ku yang masih terbilang  muda,atau bisa dibilang bau kencurlah, dan sebagainya, dengan status yang belum mendapatkan gelar , dan ilmu yang belum cukup mengenai kerasnya kehidupan, aku mau bahas yang ini aja “Menunggu lebih baik daripada harus menghabiskan waktu dengan orang yang salah” karena sambil berbenah diri menggali kemampuan dan menambah pengetahuan, supaya nanti masa depan kelak berbuah manis dan dapat dipetik. Aku juga percaya, bahwa jodohku (berarti masih dipinjam orang jodohnya) kelak sudah dipersiapkan dengan manis dimasa depan. Bukan maksud hati ingin meninggi, tapi ada baiknya loh daripada harus bersama dengan orang yang salah, dan ternyata bukan masa depan kita. Rugi sih, apalagi udah menjalin bertahun-tahun terus udahan gitu aja. Tak apalah sendiri, sambil perbanyak pertemanan, darisa...